Sunday, 3 April 2016

Marah anak biar dengan doa, bukan maki hamun

Kita semua pernah marah, itu sifat manusia. Marah biar secara berakal dengan mengawal perasaan dan kata-kata yg diucap. Jangan biar kemarahan dikuasai emosi dan nafsu kerana akan terbit kata-kata yg tidak dikawal, yang terbit dari nafsu marah bukan dari akal. Maki hamun, sumpah seranah itu kebiasaan orang yang marah, itulah senjata syaitan.

Jangan pandang remeh pada setiap perkataan yang keluar dari lidah anda. Ada ketikanya, apa yg kita sebut, tiba-tiba diperkenan Allah, maka terjadilah ia. Jika ia perkara yg buruk, maki hamun sumpah seranah, lalu termakbul, bagaimana?
Perhatikan hadis ini;
Rasulullah SAW telah bersabda: ”Adakalanya seseorang melepaskan sepatah kata daripada kata-kata yang diredai Allah yang dia tidak menyangka hal itu sedemikian rupa, tiba-tiba dicatat oleh Allah dalam keredaan-Nya sehingga dia berhadapan dengan Allah Taala dalam keadaan diredai. Demikian pula adakalanya seseorang bercakap sepatah kata daripada kata-kata yang membuat kemurkaan Allah yang dia tidak menyangka akan sedemikian rupa tiba-tiba dicatat oleh Allah Taala dalam kemurkaan-Nya hingga hari kiamat.” (Hadis riwayat Imam Malik dan al-Tirmizi)

Saya berbimbang sekali ibu dan bapa yg bila marah anak-anak, selalu terlajak kata, apakata jika waktu itu Allah terima perkataannya. Bila marah saudara mara, rakan taulan, terlajak kata. Bila melihat keburukan, kecatatan orang, terlajak kata.

Kawallah perkataan bila marah.Berbimbanglah kepada saat Allah mengangkat perkataan kita yang buruk. Kalau marah pun, jangan meratus, berleter panjang, mengulas itu ini bagai ulasan selari pertandingan bola sepak kerana bimbang terlajak kata. Ada ibu yang tersebut “Anak tak guna, penyegan…..” Ada ayah termaki”Anak celaka,……” Ada rakan tersebut dalam marah”Haram jadah sungguh dia tu…”

Kawallah marah dengan diam, kunci mulut.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayat dari Abu Hurairah, nabi bersabda; “Seringkali sepatah perkataan yang diucap seseorang membuatkan ia melayang-layang dineraka selama 70 tahun”

Sebaliknya, marilah kita sentiasa melafazkan kata yang baik kepada siapa juga, dimana saja, dalam situasi apa juga, moga akan terjadilah saat Allah menerima kata-kata tersebut. Jika diamal dalam hidup, pasti akan kita temui di satu masa situasi Allah mengangkat kata-kata kita yang baik seperti dalam hadis yang disebut di atas. Bila sendirian, bisiklah pada diri kata yang baik, doa dan munajat mengadu kpd Allah dengan harapan saat Dia menerima kata-kata kita dipertemukan seperti yang nabi sebut.

Sebab itu kita disuruh terus berdoa, bermunajat tanpa jemu hingga ke akhir hayat kerana kita tidak tahu bila Allah menerima doa dan munajat kita, bila saat kata-kata kita diangkat Allah.

Berhentilah dari marah dengan cara berleter panjang, berpadalah sekadar menyatakan kemarahan kita dengan sepatah dua yang terkawal, jika panjang pun tidak membawa kebaikan, melainkan lebih melukakan dan bimbang kata-kata buruk kita dimakbul, bimbang kita kena menelan kembali setiap kata yang terbit waktu marah itu di akhirat. Wallahu a’lam.

kredit: abdghaniharon


EmoticonEmoticon

Google+ Followers